Dinsdag 15 Maart 2016

Aku menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya

 Artikel by : kiman,

Assalamualaikum Wr.Wb.

mari sejenak merenung dalam sebuah artikel kisah nyata yang mengajarkan kita arti bersyukur, "pergunakan sempat sebelum sempit, pergunakan sehat sebelum sakit" baiklah singkat cerita mari kita simak ke TKP...

sebelum membaca sebaiknya sediakan tissue yah bro ..

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orang tua, membuatku membenci suamiku sendiri. Padahal, kedua orang tuaku sangat menyayanginya karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri mereka satu-satunya. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun tak menyukainya, aku tetap melayani kebutuhan seksualnya. Aku melakukannya karena ku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan untuk meninggalkannya tapi aku tak mempunyai pekerjaan untuk membiayai hidupku. Karena ku tak mencintainya, kulakukan segala hal sesuka hatiku. Ternyata suamiku tak melarang ataupun memarahi segala tingkah lakuku dirumah. Ia membiarkan dan memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karna aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Dirumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorang pun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah diletakkan ditempat tidur, aku sebal ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja yang meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai laptopku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah jika ia menggantung bajunya di kapstok bajuku, aku juga marah ketika ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika ku sedang bersenang-senang dengan teman-teman. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya ia mendukung dan aku ber-KB dengan pil. Tetapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begit dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun tahu ia membiarkannya. Akhirnya aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokter pun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan ini semakin bertambah ketika aku mengetahui bahwa aku mengandung dan harus melahirkan anak kembar. Aku memaksananmelakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama anak kedua anak kami. Waktu berlalu hingga tak terasa sudah berusia delapan tahun. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anakku sudah menunggu di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan bahwa hari ini adalah ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa memperdulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa setahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir ke acara ibu. Yah.., karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membeci kedua orang tuaku.Sebelum ke kantor biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi, seperti biasa aku memutuskan untuk ke salon adalah hobi wanita, tak terkecuali aku. Ternyata di salon aku bertemu teman lama sekaligus orang yang sebenarnya tidak ku sukai. Kami mengobrol sembari saling memamerkan kegiatan dan keluarga kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal dirumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelpon suamiku dan bertanya. “maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka ku ambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah ku letakkan di atas meja kerjaku,” kata suamiku menjelaskan dengan lembut. Aku pun langsung mengomelinya dengan kasar. Kututup telpon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone ku kembali berbunyi dan meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak, “apalagi?” “Sayang, aku pulang sekarang, akan ku ambilkan dan mengantarnya padamu, sayang sekarang ada dimana ?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telpon kembali. Aku menyebutkan nama salon dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku bicara pada kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang dan membayar tagihanku. Pemilik salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tidak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali ku telpon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering telponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Akhirnya panggilanku diterima setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telpon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara laki-laki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa kerumah sakit. Aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone dan beberapa pegawai salon mendekatiku dan bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Dengan bantuan pemilim salon aku tiba dirumah sakit. Tak lama seluruh warga hadir disana meyusulku. Aku hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan magrib, seorang dokter keluar dari ruangan dan menyampaikan berita, suamiku telah tiada. Mendengar kenyataan itu aku malah sibuk menguatkan kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetes pun keluar dari mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertua. Anak-anak terpukul memelukku dengan erat tapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.Ketika jenazah dibawah kerumah, aku duduk dihadapannya. Aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang dia berikan padaku setelah sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang dingin dan kusadari inilah pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Air mata mulai merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar air mata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Bukannya berhenti, air mata semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu menguatkanku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatan dan kebutuhannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanan untuknya. Padahal dia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untukya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pulang larut malam setiap hari karena jarak kantor dari rumah cukup jauh. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat kekantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersama onggokan tanah. Aku tak tahu apa-apa sampai terbangun di tempat tidurku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dada. Keluarga besar kami membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.Hari-hari kujalani setelah kepergian dirinya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan, tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari awal-awal kepergiannya , aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, seperti biasa aku memanggil, dan ketika ibuku yang datang, aku berjongkok menangis didalam kamar mandi berharap ia akan datangSetiap malam aku menunggunya di kamar dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya disebelahku. Dulu aku begitu kesal mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesar karena ia sering membuat kamar tidur kami berantakan, tapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa meng-log out, sekarang aku memandangi laptop, mengusat tuts-tutsnya berharap jari-jarinya masih tertinggal disana. Dulu aku paling tidak suka dia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekas yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tak mau kuhapus.Semua kebodohan itu kulakukan karna aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku pun mencintainya. Aku marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun dia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih disana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karna tak bisa menghentikan penyesalanku. Aku marah karna tak ada yang membujukku lagi untuk tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf kepada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan kepadaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkan dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, tak pernah muncul setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Aku tak tahu cara yang benar untuk mendapatkan uang. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pedapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kuperdulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadiku dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.Dari kantor tempat kerjanya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata hampir seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakannya untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami karna aku tak pernah bertanya sekalipun tentang itu. Sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku tak akan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja dimana ? aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh suamiku.Dalam kebingunganku ayah datang bersama notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan dari suamiku bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak. Tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah suratnya untukku. Istriku Liliana tersayang,Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu harus bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat untuk mencintaimu dan anak-anak. Perlu kau tahu, mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tapi ternyata aku tak bisa. Meski begitu, aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa ku berikan tapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka sayang. Jangan menangis sayangku yang manja. Lakukan banyak hal agar hidupmu tak terbuang percuma seperti selama ini. Aku memberimu kebebasan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti ibu. Dan untuk Farhan, kesatria pelindungku, jagalah ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang nakal. Dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kaca mata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberi tahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil depositonya dan usahanya cukup berhasil meskipun dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.Sekian lama berlalu, banyak lelaki yang hadir namun tak satupun yang mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup didalam hatiku. Hari demi hari hanya ku abadikan untuk anak-anakku. Ketika orang tua dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihankun saat suamiku pergi. Kini kedua putra putri kami berusia duapuluh tida tahun. Dua hari lagi putri kami menikah dengan seorang pemuda. Ia bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu ?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekuarangannya, akan belajar bahwa sebesar apa pun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta”.Putriku menatap, “seperti cinta ibu pada ayah ? cinta itu kan yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang ?”. Aku menggeleng, “Bukan sayangku, Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua”.Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya …..


Izinkan Penulis Berpesan kepada para pembaca : "lebih baik mencintai orang yang kalian nikahi daripada menikahi orang yang kalian cintai"

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking