Posted on sept
12 2013 by www.kimancallista.blogspot.com
Jubah atau
pakaian Rasulullah serta barang-barang lainnya yang pernah ia bawa selama masa
hidupnya. Seandainya kita punya kesempatan untuk menciumi barang-barang yang
pernah bersentuhan dengan kulitnya yang suci itu, maka itu akan menjadi
kesempatan terindah seumur hidup kita
.
Dalam Sahih
Muslim, ada sebuah hadits yang sangat terkenal yang diceritakan oleh Ibn
Abbas. Hadits itu berbunyi:
“Tiga hari sebelum Rasulullah
meninggal, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya berdiri di samping tubuh
Rasulullah yang terbaring. Rasulullah bersabda, ‘Sekaran aku akan tuliskan bagi
kalian sehingga kalian tidak akan tersesat setelahku.’ Umar bin Khattab
menimpali, ‘Rasulullah telah dikuasai oleh penyakitnya; kalian sudah memiliki
Qur’an, Kitabullah. Itu cukup bagi kita semua.’ Pernyataan Umar mengundang
kemarahan dari semua orang yang hadir. Beberapa mengatakan bahwa perintah
Rasulullah itu harus segera dipatuhi supaya ia bisa menuliskan apa yang ingin
ia tuliskan untuk menuntun umat semua. Sedangkan sebagian lain sepakat dengan
Umar. Ketika ketegangan sudah memuncak, Rasulullah berkata dengan marah,
‘Pergilah kalian semua dariku!’
Seandainya Umar bin Khattab mau bersabar dan tidak
mencegah Rasulullah menuliskan surat wasiatnya, maka umat Muhammad tidak akan
mungkin berpecah belah selamanya. Mereka akan berpedoman pada selembar tulisan
dari Muhammad al-Mustafa itu yang akan menjadi pemersatu umat Muslim sedunia.
Oleh karena
itu, Ibn Abbas seringkali berkata setelah kejadian itu: “Malang sekali, sungguh
malang sekali. Kejadian dulu itu dimana pertentangan dan keributan terjadi,
telah membuat Rasulullah murka dan tidak jadi menuliskan wasiatnya dan oleh
karena itu, Rasulullah tidak meninggalkan apa yang ia ingin tuliskan dalam
selembar kertas.”
Riwayat dari
Sa’id Ibn Jubayr dituliskan dalam Sahih Bukhari. Ia meriwayatkan sebagai
berikut:
Ibnu Abbas
pernah berkata, “Duhai hari Kamis, malang nian hari Kamis!,” kemudian Ibnu
Abbas menangis dengan keras sehingga bebatuan kecil yang ada di sekitar dirinya
basah karena tangisannya. Kemudian ia melanjutkan, “Ketika itu hari Kamis.
Penyakit Rasulullah sedang menghebat, kemudian ia berkata, ‘Bawakan untukku
kertas dan pena supaya aku bisa menuliskan sesuatu yang dengannya kalian tidak
akan lagi tersesat sepeninggalku.’ Orang-orang mulai ribut dan bertengkar satu
sama lainnya dan mereka melakukan hal itu di depan Rasulullah yang masih hidup
bersama mereka. Seseorang mengatakan bahwa Rasulullah telah meracau. Rasulullah
berteriak akhirnya, ‘Pergilah kalian semua dariku! Aku lebih berakal daripada
kalian semua.”
Diriwayatkan
dalam kitab Raudatul-ahbab bahwa Rasulullah telah berkata kepada
Fathimah, “Bawalah kedua anakmu kepadaku.” Kemudian Fathimah membawa Hasan dan
Husein ke hadapan Rasulullah. Keduanya kemudian memberi salam kepada
Rasulullah, kemudian duduk di tepi pembaringannya dan kemudian menangis ketika
melihat kakeknya sedang menderita seperti itu. Keduanya menangis pilu sehingga
orang-orang yang hadir di situ ikut menangis keras. Hasan meletakkan wajahnya
di wajah Rasulullah, sedangkan adiknya, Husein, meletakkan wajahnya di dada
Rasulullah. Rasulullah membuka matanya, kemudian ia menciumi kedua cucunya itu
dengan penuh kasih sayang. Itu juga sekaligus untuk memberikan orang-orang
pelajaran bahwa mereka harus mencintai dan menghormati kedua cucunya itu. Dalam
riwayat yang lain disebutkan bahwa para sahabat yang kebetulan hadir di sana
pada saat itu, demi melihat Hasan dan Husein menangis mereka juga ikut menangis
keras. Di tengah-tengah suasan haru itu Rasulullah berseru, “Panggilah
saudaraku Ali dan bawalah kepadaku.”. ‘Ali datang dan berdiri di sisi
pembaringan sambil memegang kepala Rasulullah. Ali kemudian mengangkat kepala
Rasulullah dan meletakkannya di pangkuannya. Rasulullah berkata:
“Ya, Ali!
Aku telah meminjam sejumlah uang dari seorang Yahudi untuk keperluan tentara
ekspedisi Usamah. Tolonglah bayarkan hutangku itu. Dan, Ali. Engkau akan
menjadi orang pertama yang akan menemuiku di mata air al-Kautsar. Engkau juga
akan mendapatkan banyak sekali masalah sepeninggalku. Engkau harus bersabar
menghadapinya dan apabila engkau lihat orang-orang lebih mencintai dunia, maka engkau
harus lebih memilih akhirat.”
Yang berikut
ini diambil dari Khasa’is dari Nasa’i dari Ummu Salamah:
“Demi Allah, orang yang paling dekat
dengan Rasulullah ketika Rasulullah meninggal itu adalah Ali. Pada pagi hari
ketika Rasulullah hendak meninggal. Rasulullah memanggil Ali yang sedang
disuruh untuk melakukan sebuah tugas. Rasulullah memanggil-manggil Ali sebanyak
tiga kali sebelum akhirnya Ali datang. Ali datang sebelum matahari terbit.
Karena kami tahu Rasulullah ingin meluangkan waktunya sendirian bersama Ali,
maka akhirnya kami membiarkan mereka berdua. Aku yang terakhir keluar; oleh
karena itu aku berdiri dekat sekali ke pintu kamar—lebih dekat daripada para
wanita yang lain. Aku melihat Ali mendekatkan kepalanya kepada Rasulullah dan
Rasulullah tampaknya membisikkan sesuatu ke telinganya selama beberapa saat
lamanya. Oleh karena itu, Ali adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah
disaat-saat kematiannya.”
Al-Hakim
memberikan catatan dalam kitab Mustadrak-nya:
“Rasulullah
terus menerus menaruh kepercayaan kepada Ali hingga ajal menjemputnya. Dan
Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir di dekat Ali.”
Ibn al-Wardi
menyatakan bahwa orang-orang yang memandikan jenazah Rasulullah ialah:
“Ali, Abbas,
Fadl Qutham, Usamah, dan Shaqran. Abbas, Fadhl dan Qutham membolak-balikkan
jenazah Rasulullah. Usamah dan Shaqran menyirami tubuh Rasulullah dengan air,
dan Ali yang membersihkan jenazah Rasulullah.”
Dalam Tarikh
al-Khamis ada tambahannya:
“Abbas,
Fadhl, dan Qutham membolak-balik jenazah Nabi sementara Usamah dan Shaqran yang
menyiramkan airnya. Semuanya matanya ditutup kain.”
Ibn Sa’d
menceritakan kejadian ini dalam kitab Tabaqat-nya:
“Ali
meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang siapapun memandikan jenazahnya kecuali
Ali sendiri dan apabila orang lain yang melakukannya maka kedua matanya akan
buta.”
Sementara
itu ‘Abdul Barr dalam kitabnya Al-Isti’ab, mengutip dari Abdullah bin
Abbas yang berkata: “Ali memiliki empat keutamaan yang tidak mungkin dimiliki
oleh orang lain. Keutamaannya itu ialah:
- Diantara semua orang Arab dan
non-Arab (‘Ajam), Ali adalah orang yang pertama kali shalat bersama
Rasulullah
- Di dalam semua peperangan yang
ia ikuti, Ali pastilah menjadi pemegang panji (bendera perang) di
tangannya
- Ketika semua orang kabur dari
peperangan meninggalkan Rasulullah sendirian, Ali bin Abi Thalib tetap
berada di samping Rasulullah tak bergeming
- Ali adalah satu-satunya manusia
yang memandikan jenazah Rasulullah dan memasukkan jenazahnya ke liang
lahat.”
Baik
Abul-Fida’ maupun Ibn al-Wardi menunjukkan bahwa Rasulullah itu meninggal pada
hari Senin dan kemudian dikebumikan keesokan harinya yaitu pada hari Selasa.
Akan tetapi di dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah itu dikebumikan
pada malam hari antara malam Selasa dan Rabu. Ini mungkin kelihatannya lebih
faktual mendekati sumber yang disebutkan pertama. Akan tetapi ada juga sumber
lain yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak dikebumikan hingga 3 hari setelah
hari meninggalnya.
Dalam kitab Tarikh-al-Khamis,
disebutkan bahwa Muhammad ibn Ishaq mengatakan sebagai berikut:
“Rasulullah
itu meninggal pada hari Senin dan kemudian dikebumikan pada malam hari Rabu”
Sedangkan
mengenai usianya ketika Rasulullah meninggal, Abul-Fida’ menuliskan:
“Ada
perbedaan pendapat mengenai usia Rasulullah ketika ia meninggal dunia. Akan
tetapi apabila kita menghitungnya dengan menggunakan hadits-hadits yang
terkenal, maka kemungkinan Rasulullah itu hidup hingga usia 63 tahun”
—————————————————————————————-
Rasulullah
meninggal pada tanggal 28 Safar tahun 11H. Dengan itu kehidupan dari Nabi
terakhir itu berakhir di dunia ini.
“Hai Nabi
sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan
pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya
dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45—46)
Rasulullah
telah meninggalkan dunia fana ini…………akan tetapi pesan-pesan yang ia bawa untuk
umat manusia tetap abadi bersama kita………………..
“Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan,
dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maa’idah: 16)
“Alif, laam
raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan
manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan
mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS.
Ibrahim: 1)
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
“…………… Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Pembangkangan Shahabat Terhadap Perintah Penyerangan
ke Romawi
.
Walaupun
Rasulullah saww sudah memerintahkan shahabat (kecuali beberapa orang seperti
imam Ali as), akan tetapi mereka (muhajirin dan anshar) banyak yang keberatan
pergi dan bahkan tidak taat kepada Nabi saww dengan dua alasan: Pertama, karena
Nabi saww dalam keadaan sakit
.
Alasan ini
sebenarnya untuk golongan yang keberatan pergi. Utsamah sendiri semacam memohon
kepada Nabi saww untuk tidak meninggalkan beliau saww dalam keadaan sakit. Ke
dua, karena Nabi saww memilih Utsamah sebagai panglima dan pemimpin. Alasan ini
dijadikan alasan oleh orang-orang yang tidak taat kepada Nabi saww, seperti Abu
Bakar dan Umar.
.
- Untuk
alasan pertama ini, maka Nabi saww tetap menekankan kepada Utsaamah untuk pergi
memimpin pasaukan, beliau saww bersabda:
.
“Pergilah ke
tempat terbunuhanyaa ayahmu dan kuasailah dengan pasukan kudamu. Aku telah
mengangkatmu menjadi pemimpin pasukan ini…….dst.” (Syarhu Nahji al-Balaaghah,
karya Ibnu Abi al-Hadiid, 1/53; al-Maghaazii, karya al-Waaqidii, 3/1117;
al-Siiratu al-Halabiyyah, 3/207; al-Siiratu al-Nabawiyyah, karya Zaini Dahlaan,
bihaamisyi al-Siirati al-Halabiyyati, 2/339; Thabaqaatu al-Kubraa, 2/190; …dll
yang banyak sekali di kitab-kitab Sunni).
.
- Untuk
alasan ke dua, yaitu tidak perginya para shahabat bersama Utsaamah, maka
Rasulullah saww dengan badan yang gemetaran karena sakit, keluar rumah dan memasuki
masjid lalu menaiki mimbar dan bersabda:
.
“Wahai
hadirin, apa yang telah sampai kepadaku dari perkataan sebagian kalian tentang
penunjukanku kepada Utsamah? Kalau kalian mencela penunjukanku kepada Utsaamah
hari ini, sesungguhanyaa kalian sebelum itu telah mencela penunjukanku kepada
ayahanyaa …..”
.
Paling
kerasnya penentang keputusan Nabi saww adalah Umar dan Abu Bakar. Karena mereka
tidak mau pergi, dan setelah Nabi saww marah dan naik mimbar itu, baru mereka
pergi, akan tetapi sesampai di daerah Jurf (di luar Madinah) mereka kembali ke
Madinah dan membuat pertemuan Saqifah setelah wafatnya Nabi saww yang kemudian
dengan baiatnya Umar, Abu Bakar menjadi khalifah (lihat semua kitab-kitab
sejarah Sunni berkenaan dengan pembaiatan Abu Bakar ini).
.
Dalam
beberapa riwayat juga dikatakan bahwa Nabi saww bersabda:
.
“Ikutlah
tentara Utsamah, laknat Allah bagi yang memboikotnya.” (al-Milal wa al-Nihal,
karya Syahristaani al-Syafi’ii, 1/23)
.
Dalam
riwayat lain juga dikatakan bahwa Umar mengecam keras Utsamah ketika itu dengan
berkata:
“Kalau
Rasulullah mati, kamu akan menjadi pemimpinku?!” (al-siiratu al-Halabiyyah,
3/209; Kanzu al-‘Ummaal, 15/241, hadits ke: 710; al-Siiratu al-Nabawiyyah,
karya Zaini Dahlaan, bihaamisy al-Siiartu al-Halabiyyah, 2/341)
.
Dan ketika
Abu Bakar menjadi khalifah, dan ingin mengirim pasukan ke Romawi, Umar tetap
ngotot meminta Abu Bakar untuk mencabut kepemimpinan Utsaamah (Taariikhu
al-Thabari, 3/226; al-Kaamil, 2/335; al-Siiratu al-Halabiyyati, 3/209;
al-Siiratu al-Nabawaiyyah, 2/340.).
.
Petaka Hari
Kamis
.
Peristiwa
ini, dikenal dalam kitab-kitab hadits dan sejarah sebagai Petaka Hari Kamis
atau “Raziyyatu Yaumi al-Khamiis”. Yaitu ketika Rasulullah saww sudah sakit dan
menjelang wafat beliau saww, pada hari kamis, beliau saww meminta sekitarannya
menyiapkan kertas dan pena untuk menuliskan wasiat beliau saww
.
Beliau saww
besabda:
“Aku akan
menuliskan sebuah tulisan –wasiat- buat kalian sehingga kalian tidak akan
pernah sesat setelahanyaa.”
Akan tetapi
Umar melarang memberikannya dan berkata:
“Sesungguhanyaa
Rasulullah saww telah dilampaui sakitnya, sementara kita sudah punya Qur an,
cukuplah Qur an bagi kita.” (Shahih Bukhari, 7/156; Shahih Muslim, 5/75; Musnad
Ahad bin Hanbal, 4/356; ….dll yang banyak sekali).
.
Maksud Umar
adalah mengigau, meracau, ngaco dan semacamnya, seperti yang diriwayatkan di
hadits-hadits lainnya yang mengatakan bahwa beberapa shahabat Nabi saww
mengatakan bahwa beliau saww telah “Mengigau/meracau” (Shahih Bukhari, 2/118
atau hadits ke: 3053; Shahih Muslim, hadits ke: 3090; ..dll yang banyak sekali
di Sunni)
.
Akhirnya
Rasulullah saww mengusir mereka dari hadapan beliau saww. (Shahih Bukhari,
hadits ke: 114, 3053, 4432; Shahih Muslim hadits ke: 3091, 4322; dll yang
banyak sekali di kitab-kitab sunni).
Bukhari dan Muslim
meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat
menjelang wafatnya:
Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari
Jazirah Arab.
Kedua, berikan hadiah kepada delegasi
seperti yang biasa kulakukan.
Kemudian si
perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”[1]
Akankah akal
sehat kita dapat menerima dan percaya bahwa para sahabat yang hadir dan
mendengar tiga wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada apa isi wasiat yang ketiga
?, apa hukumnya bagi orang pelupa dan menjadi Perawi ?
.
Politiklah yang memaksa mereka
melupakan isi wasiat itu dan tidak menyebutnya. Hal ini merupakan
rangkaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak
mungkin tidak bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah
wasiat Nabi akan pelantikan Ali (AS) sebagai khalifah dan imam sepeninggal
beliau SAWW. Namun si perawi enggan menyebutkannya
.
Orang yang
meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwa isi
wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali
bin Abi Thalib AS, walau diupayakan dengan sistematik untuk disembunyikan.
Bukhari
dalam kitab Shahihnya bab al-Washaya, dan Muslim dalam
bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah
berwasiat pada Ali di tengah kehadiran Aisyah[2]
.
Ingatlah
ketika Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali
disebut-sebut, seperti yang laporkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya[3],
dan Bukhari dalam kitab Shahihnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan kita tahu
bahwa Aisyah melakukan sujud syukur saat mendengar kematian Imam Ali KW,
Lalu harapan apa yang masih tersisa dari Ummul Mukminin ini
untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi untuk Ali bin Abi Thalib? . Ummul
Mukminin Aisyah ini sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan
sikap permusuhan dan kebenciannya pada Imam Ali, putera-puteranya serta itrah
Ahlu Bait Nabi SAWW
.
Masih ada
cara-cara kotor mereka yang kadang-kadang menakwilkan hadis-hadis shahih dan
menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau mendustakan
hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau hadits itu
tertulis dalam kitab-kitab shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa
dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga
dari isi hadis lalu menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan
para perawi yang tsiqah lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan
dengan kehendak mereka; atau mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari
buku terbitannya, kemudian menghapusnya pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi
sedikitpun alasan betapapun para pemerhati mengetahui sebab musababnya
.
Usaha mereka
itu adalah dengan sengaja hendak mengaburkan kebenaran dan mencari pembenaran
sebanyak-banyaknya mereka mampu melaksanakannya, tetapi akan selalu terbongkar.